26 November 2014  
Nama Login :
Kata sandi :
- Lupa Kata Sandi ?
- Pendaftaran
- Webmail
 
 
 
 
 
Bursa Transmigrasi
KTM
Kementerian Tenaga K

Transmigrasi Peluang Sumber Pangan Indonesia
Tanggal: 30 Nov 2012
Sumber: ekonomi.kompasiana.com

BursaTransmigrasi.net,

Transmigrasi merupakan aktivitas memindahkan penduduk dari daerah padat ke daerah yang jarang penduduknya.  Di Indonesia program Transmigrasi sudah dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda, saat itu fokus wilayah transmigrasi adalah Lampung, yang sangat dekat dengan pulau Jawa.   Pada zaman Pemerintah Orde Baru, progra transmigrasi mendapat perhatian besar dari Presiden Suharto, pertama dari cita-cita pemerintah saat itu berencana memindahkan 500.000 KK dalam waktu lima tahun, saat itu sebuah rencana besar, melibatkan beberapa departemen atau sekarang disebut kementerian seperti Depnakertrans, Pertanian, PU, Dalam Negeri -termasuk di dalamnya Ditjen Agraria-.  Perhatian pemerintah boleh disebut makin besar ketika pada tahun 1983 membentuk Departemen Transmigrasi, yang salah satu menterinya Ir Siswono Yudohusodo.

Apakah program transmigrasi berhasil ?  Keberhasilan dapat dilihat dari pelbagai sudut, demikian pula kegagalan proyek Transigrasi terjadi di beberapa tempat.   Secara umum keberhasilan dapat dilihat di Lampung dan Sitiung, di kedua tempat pemukiman transmigrasi telah berkembang menjadi kabupaten, kota, bahkan di Sulawesi Selatan lokasi Transmigrasi di Mamuju telah menjadi Ibukota provinsi (Sulawesi Barat), seperti dikatakan Dirjen P2MKT, Roosari Tyas Wardani (Pikiran Rakyat Online, 27 November 2012).

Dalam skala mikro yang saya ketahui keberhasil anak transmigran sedikit banyak juga memberi sumbangan atas keberhasilan orangtuanya sebagai transmigran, misalnya Gubernur Bali saat ini adalah anak transmigran di Bengkulu, dari Lampung ada seorang Laksamana Pertama berasal dari desa Transmigran, seorang kawan sekerja dari lokasi Transmigrasi di daerah Poso saat ini menjadi manajer administrasi di sebuah anak perusahaan Astra.   Kebetulan ketiga orang yang saya sebut berasal dari etnis Bali, tentu selain menunjukkan bahwa orang Bali ulet dan tahan uji, bukan berarti hanya transmigran Bali yang berhasil, kebetulan saja saya tak kenal atau tak mengetahui transmigran atau anak transmigran seperti contoh tiga orang tadi, hanya di Sitiung, Lampung dan Riau pernah saya dengar ada petani dan pengusaha kaya asal Transmigran  Jawa.

Bagaimana program Transmigrasi di era Reformasi?  Tampaknya  kemudahan memindahkan Transmigran dari Jawa dan Bali ke luar Jawa tidak semudah dulu, ini pengamatan orang luar yang tak tahu persis aktivitas Transmigrasi sekarang.  Cerminannya adalah target pemindahan Transmigran selama setahun masih berkisar ribuan atau belasan ribu KK saja, misalnya target 2011 adalah 10.000 KK dan target tahun 2012 adalah 9500 KK, realisasinya kemungkinan besar lebih kecil lagi.

Apakah ada keengganan dari pemerintah daerah penerima transmigrasi?  Mudah-mudahan tidak ada, walaupun Kepala Daerah pada zaman otonomi sekarang punya kewenangan besar diharapkan mereka lebih mengedepankan masa depan bangsa Indonesia, karena bila proyek Transmigrasi di daerahnya dikelola denggan baik, bukan mustahil daerahnya menjadi salah satu gudang pangan Indonesia.

Saya teringat salah satu obrolan dengan seorang pejabat lapangan Transmigrasi tiga puluhan tahun lalu, saat saya tanya bagaimana membuka lahan transmigrasi agar menjadi lahan siap tanam?   Beliau menjawab hanya seharga sebungkus korek api saja.  Maksudnya?  Ooo ternyata lahan itu dibakar saja katanya.  Entah beliau bergurau atau memang begitu kenyataan di lapangan saat itu, saya terus terang tak tahu persis.

Bila Menteri BUMN dan Menteri Kehutanan percaya diri mengemukakan gagasannya membantu program pemenuhan daging sapi untuk Indonesia, maka Menteri tenaga Kerja dan Transmigrasi sewajarnya lebih percaya diri dan lebih berpeluang melaksanakan program serupa, bukan hanya bidang peternakan tapi juga perikanan dan pertanian.  Masalahnya bagaimana perhatian Presiden SBY terhadap program Transmigrasi, masa sih targetnya masih sekitar 10.000 KK per tahun, apa tak ada keinginan menetapkan target 500.000 KK selama satu ‘Pelita’ atau 100.000 KK per tahun?

Bila program Transmigrasi dikelola dengan baik dan benar, kerjasama yang kompak antar beberapa Kementerian -termasuk Bappenas dan Badan Pertanahan Nasional- dan Pemerintah Daerah, bukankah Indonesia boleh berharap bahwa ketersediaan pangan dan menghentikan impor beras dan sapi dari luar negeri bukan hanya menggantang asap?  Mudah-mudahan saya menulis catatan ini bukan sedang menggantang asap.

 
 
 
2005 Bursa Transmigrasi. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Saran dan komentar ke: info@bursatransmigrasi.net