30 October 2014  
Nama Login :
Kata sandi :
- Lupa Kata Sandi ?
- Pendaftaran
- Webmail
 
 
 
 
 
Bursa Transmigrasi
KTM
Kementerian Tenaga K

Lahan Transmigrasi Masih Tumpang Tindih
Tanggal : 22 May 2007
Sumber : Kompas

BursaTransmigrasi.net - Palembang, Lahan Transmigrasi Masih Tumpang Tindih
Masalah Perbatasan Muara Enim dan Ogan Ilir Diduga Jadi Penyebab

Palembang, Kompas - Pengembangan lahan persiapan Unit Permukiman Transmigrasi II Sungai Rambutan, Kecamatan Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, terkendala karena tumpang tindih dengan perkebunan yang diklaim milik PT Indralaya Agro Lestari. Lahan tersebut mencapai 40 hektar.

Manajer Umum PT Indralaya Agro Lestari Walter Sihombing, Jumat (18/5), menjelaskan, perusahaan tidak melakukan penyerobotan terhadap lahan persiapan transmigrasi itu karena memiliki izin yang lengkap. Menurut Walter, tidak ada persoalan tumpang tindih antara lahan perusahaan dan lahan persiapan transmigrasi.

"Masalah ini muncul karena persoalan perbatasan antara Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Ilir. Perbatasan kedua daerah harus ditegaskan. Perusahaan beroperasi di Desa Patra, Kecamatan Muara Belida, Kabupaten Muara Enim," kata Walter.

Menurut dia, wilayah operasi perusahaan tersebut memang berada di perbatasan kedua kabupaten yang ternyata terdapat lahan persiapan transmigrasi.

Lahan persiapan

Sehari sebelumnya, Kepala Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) I Sungai Rambutan Darusman mengungkapkan, lahan yang dipakai PT Indralaya Agro Lestari telah memasuki lahan persiapan UPT II Sungai Rambutan seluas 40 hektar.

Menurut Darusman, kalau persoalan lahan tumpang tindih tak segera diselesaikan, pengembangan lahan persiapan UPT II Sungai Rambutan terancam gagal. Ia sependapat bahwa persoalan tumpang tindih itu akibat tidak jelasnya batas wilayah Muara Enim dan Ogan Ilir.

"Perusahaan itu mendapat izin dari Muara Enim, tetapi lokasinya berada di wilayah Ogan Ilir. Padahal, lahan tersebut sudah dicadangkan sebagai lokasi transmigrasi. Penyelesaian persoalan ini sebenarnya gampang, panggil saja pemilik tanah lalu bicara di atas meja," ujar Darusman.

Ia mengungkapkan, untuk lokasi persiapan UPT II Sungai Rambutan membutuhkan lahan seluas sekitar 700 hektar. Lahan itu terdiri atas lahan perumahan, pekarangan, fasilitas umum dan sosial, serta tanah garapan seluas dua hektar setiap kepala keluarga (KK). Rencananya UPT II Sungai Rambutan akan dibuka tahun 2008 jika persoalan tumpang tindih lahan sudah selesai.

UPT I Sungai Rambutan dibuka pertama kali tahun 2005 dengan jumlah warga sebanyak 150 KK. Pada tahun 2006 datang lagi gelombang kedua sebanyak 150 KK sehingga total warga UPT I Sungai Rambutan sebanyak 300 KK. (tgh)

 

[ Indeks | Cetak | Teman ]

 
 
 
2005 Bursa Transmigrasi. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Saran dan komentar ke: info@bursatransmigrasi.net