31 October 2014  
Nama Login :
Kata sandi :
- Lupa Kata Sandi ?
- Pendaftaran
- Webmail
 
 
 
 
 
Bursa Transmigrasi
KTM
Kementerian Tenaga K

Bangun Daerah Tertinggal Melalui Program Transmigrasi
Tanggal : 13 Feb 2008
Sumber : Pemprov Jambi

BursaTransmigrasi.net - Jambi, Pembangunan transmigrasi masih tetap menjadi salah satu program andalan bagi Provinsi Jambi untuk mempercepat pembangunan daerah- daerah tertinggal. Program ini terus dipacu karena berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun, program tersebut telah mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi daerah- daerah tertinggal.

Pembangunan transmigrasi di Jambi selama ini juga telah banyak mengubah wajah daerah tertinggal menjadi daerah maju. Hal ini tampak dari perkembangan sejumlah unit permukiman transmigrasi (UPT) di daerah-daerah tertinggal menjadi ibu kota kecamatan. UPT Rimbobujang, Kabupaten Tebo, misalnya kini telah berkembang menjadi Kecamatan Rimbobujang. UPT Sungaibahar, Kabupaten Muarojambi menjadi Kecamatan Sungaibahar. UPT Pamenang, Kabupaten Merangin menjadi Kecamatan Pamenang.

Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin didampingi Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jambi, H Haris Rachim di Jambi baru-baru ini mengatakan, besarnya kontribusi transmigran memajukan daerah tetinggal membuat program transmigrasi di daerah itu tetap diprioritaskan. Untuk 2008, misalnya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi akan menerima sebanyak 1.545 keluarga transmigran. Sekitar 735 keluarga warga transmigran itu berasal dari Jawa Barat dan Jawa Timur dan 810 keluarga transmigran lokal. Sekitar 520 keluarga trasmigran itu ditempatkan di Kabupaten Bungo, 325 keluarga di Kabupaten Muarojambi, 200 keluarga di Kabupaten Batanghari, dan 320 keluarga di Kabupaten Kerinci.

Penempatan transmigrasi ini menerapkan dua pola, yakni pola 80: 20 dan 50: 50. Penempatan transmigrasi di Kabupaten Kerinci menerapkan pola pertama, yakni 80 persen transmigran lokal dan 20 persen pendatang. Sedangkan di kabupaten lain menerapkan pola kedua, 50 persen transmigran pendatang dan 50 persen transmigran lokal.

Strategi penempatan transmigrasi yang menggabungkan transmigran lokal dan pendatang ini memiliki tujuan ganda. Penggabungan diharapkan mampu meningkatkan keseriusan transmigran lokal agar betah dan siap bekerja keras. Melalui penggabungan, kecemburuan sosial dan konflik antara warga lokal pendatang tidak terjadi di tempat permukiman. Program itu meniru pola penempatan transmigrasi yang sudah berhasil di Jambi.

Daerah transmigrasi yang berhasil tersebut, Kuamang Kuning di Kabupaten Bungo, Rimbo Bujang (Kabupaten Tebo), Sungai Bahar (Muarojambi), dan Singkut (Sarolangun). "Semua daerah transmigrasi itu berhasil berkat kebun sawit dan karet. Karena itu program transmigrasi di Jambi saat ini diarahkan untuk pembangunan kebun sawit dan karet," katanya.

Optimistis Kendati lahan untuk trasmigrasi di daerah itu semakin sulit, namun Pemprov Jambi tetap optimistis bahwa penempatan transmigrasi di daerah itu akan berhasil. Optimisme itu ada setelah melihat berbagai keberhasilan pembangunan transmigrasi selama ini. Pembangunan transmigrasi di daerah itu berhasil karena pembinaan yang cukup baik.

Kemudian pilihan usaha pertanian bagi para transmigran juga cukup tepat, yakni perkebunan karet dan kelapa sawit. Keberhasilan pembangunan kebun karet dan kelapa sawit di daerah transmigrasi selama ini benar-benar mampu membangkitkan ekonomi mereka. Guna mencapai keberhasilan itu, penempatan transmigran di Jambi saat ini dilakukan secara selektif, baik dalam pemilihan warga dan wilayah penempatan transmigran. Para calon transmigran dipilih dari warga yang benar-benar ekonominya sulit dan siap bekerja keras dan tidak menjual lahan mereka.

Penempatan transmigran diarahkan ke daerah yang memiliki lahan subur dan prospeknya lebih cepat berkembang seperti Muarojambi, Batanghari, Bungo, dan Tebo. Selain itu, pembinaan terhadap para warga transmigran sejak penempatan hingga berhasil dilakukan secara intensif, baik pembinaan mental-spritual, sosial, pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan dan perdagangan.

Mereka juga dibina menjadi petani produktif, ekonomis dan laku di pasaran. "Pola-pola penempatan dan pembinaan seperti inilah yang menjadi salah satu resep keberhasilan pembangunan transmigrasi di Jambi. Bila para transmigran baru mampu mengikuti seluruh program pembinaan ini, niscaya mereka akan berhasil seperti warga transmigran yang sudah banyak ditempatkan di Jambi" ujarnya.

Keberhasilan pembangunan transmigrasi bukan suatu hal yang baru di daerah itu. Sejak zaman kolonial Belanda sudah ada penempatan transmigran di Jambi. Tahun 1940 sekitar 506 keluarga atau 1.945 jiwa transmigran asal Jawa ditempatkan di Desa Margoyoso, Kabupaten Merangin (dulu Sarolangun-Bangko). Pada era kemerdekaan, penempatan transmigrasi di Jambi mulai dilakukan tahun 1967/1968 dengan menempatkan 49 keluarga transmigran asal Jawa di UPT Rantau Rasau I dan 200 keluarga di UPT Rantau Rasau II, Kabupaten Tanjungjabung Timur (dulu Tanjungjabung).

Selama kurun waktu 40 tahun terakhir, jumlah UPT/Desa Transmigrasi yang berhasil dibangun di Provinsi Jambi mencapai 215 buah. Gubernur Jambi mengatakan, jumlah transmigran yang ditempatkan di Provinsi Jambi sejak tahun 1967 - 2007 mencapai 96.401 keluarga (394.802 jiwa). Jumlah itu mencapai 29,49 persen penduduk Jambi saat ini sekitar 1,5 juta. Program itu dilakukan melalui transmigrasi umum, swakarsa berbantuan, dan swakarsa mandiri (TSM).**
tghbalitfo

[ Indeks | Cetak | Teman ]

 
 
 
2005 Bursa Transmigrasi. Hak Cipta dilindungi Undang-Undang. Saran dan komentar ke: info@bursatransmigrasi.net